Unsyiah Wisuda 1.240 Lulusan

0

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali mewisuda 1.240 lulusan untuk periode Mei-Juli 2018 di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/8). Sebanyak 625 orang diwisuda pada Rabu, 8 Agustus 2018. Sementara 615 orang diwisuda pada Kamis, 9 Agustus 2018.

Dengan wisuda terakhir ini, total alumni Unsyiah sudah mencapai 120.240 orang. Jumlah ini terdiri dari lulusan jenjang sarjana, profesi, dan pascasarjana sebanyak 93.788 orang, serta lulusan diploma dari berbagai disiplin ilmu sebanyak 26.452 orang. Sementara di wisuda kali ini, tercatat 205 lulusan meraih hasil yudisium dengan pujian (cumlaude).

Menurut Prof. Samsul, secara kuantitas jumlah alumni Unsyiah yang telah mencapai 120-ribuan orang terbilang banyak. Namun, secara kualitas tidak semua alumni perguruan tinggi memiliki kesempatan berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat. Terbukanya pasar bebas membuat persaingan semakin sengit. Sebab para alumni bukan hanya bersaing dengan alumni perguruan tinggi Indonesia, tetapi juga alumni perguruan asing. Selain itu, tantangan ini semakin berat dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang mempersulit keadaan pencari kerja.

“Era disrupsi teknologi dan era berbasis cyber physical system ini, dipercaya akan mengurangi secara signifikan penggunaan tenaga manusia. Dan ini merupakan tantangan baru bagi para alumni perguruan tinggi,”

Untuk itu, Prof. Samsul berharap para lulusan perguruan tinggi mengubah pola pikirnya. Tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja. Unsyiah menurutnya terus berupaya dalam beberapa tahun terakhir ini untuk mengubah paradigma berpikir mahasiswanya. Salah satunya dengan membuka mata dan menumbuhkan semangat kreatifitas serta berwirausaha.

Para lulusan juga dituntut untuk memiliki kompetensi khusus bertahan dan bersabar dalam perjuangan, yaitu Adversity Quotient (AQ). Inilah yang dipahami sebagai kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan, atau kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

“Kecerdasan ini jauh lebih penting daripada Intelligence Quotient (IQ) yang tertulis dalam bentuk IPK tinggi di transkrip nilai para wisudawan semua,” pesan Prof. Samsul. (fer)

Leave A Reply