The Power of Hardship

0

 Na dashi heoraghan damyeon

(Jika aku diizinkan sekali lagi)

 

Geudael dashi bol su itdamyeon

(Jika aku bisa bertemu dirimu lagi)

 

Nae jinan gieog sogeseo

(Di dalam kenangan masa laluku)

 

Geu apeum sogeseo

(Di dalam rasa sakit itu)

 

Geudael bulleo

(Aku akan memanggilmu)

Baris-baris di atas adalah lirik lagu My Destiny, milik penyanyi Korea Selatan yang bernama Lyn. Meski tidak semua generasi familiar dengan lirik ini, tetapi sebagian remaja sekarang hafal dengan baik. Barisan bait lagu ini hanyalah representatif dari “penjajahan” Korea Selatan secara budaya di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Penjajahan gaya baru ini memang tidak bisa dibendung dan Korea Selatan termasuk salah satu yang terus memperluas kolonialisasinya.

Namun, mereka yang paham sejarah mengakui atau tidak, akan sedikit terperangah dengan bukti dan fakta tentang negara gingseng ini. Bagaimana tidak, hingga tahun 1950, Korea Selatan masih menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Negeri ginseng ini bahkan masih tertinggal jauh dari saudaranya,  Korea Utara, hingga satu dekade kemudian. Banyak sektor di Korea Selatan saat itu sangat jauh tertinggal. Sektor perekonomian mereka pun hanya mengandalkan pertanian. Masalah diperburuk oleh fakta bahwa Korea Selatan diduduki Jepang dan juga mengalami perang saudara. Di sisi lain, negara ini termasuk salah satu negara yang miskin sumber daya alam.

Semua faktor tersebut membuat Korea Selatan terpuruk secara total. Sejarah mencatat, secara ekonomi negara ini benar-benar berada di titik nadir di tahun 1997. Tetapi, mampu bangkit secara cepat hanya dalam beberapa tahun kemudian. Korea Selatan bahkan tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah.

Hari ini, Korea Selatan tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga di bidang teknologi dan budaya. Perlahan bangsa Korea Selatan mulai berperan dalam mewarnai dunia. Publik pun mulai bertanya-tanya, apa rahasia di balik kecepatan tumbuh kembang dan kemajuan negeri Gingseng ini?

Ternyata, salah satu kunci kebangkitan negara ini adalah kohesifitas yang sangat tinggi antar sesama masyarakat. Sikap ini juga mereka tunjukkan di saat-saat krisis. Saat terjadi krisis, bangsa Korea Selatan bersatu padu bahu-membahu membangun kembali negaranya. Dalam masa krisis, bangsa Korea Selatan mengenyampingkan kepentingan individu masing-masing dan melakukan gerakan pengumpulan emas. Semua laki-laki di negara itu bersatu menolak rokok dan mengumpulkan uang rokok untuk membayar utang kerajaan. Akhirnya, dalam waktu tiga tahun mereka mampu melunasi utang negara kepada International Military Found (IMF).

Cerita tentang kekuatan yang dihasilkan sebuah masyarakat yang bersatu atau kekuatan jamaah mungkin telah jamak kita dengar. Meski demikian, banyak sekali penghalang yang mengakibatkan sebuah jamaah atau kesatuan tidak mudah untuk diwujudkan. Perbedaan-perbedaan kecil sering sekali menjadi pemicu bubarnya sebuah kesatuan.

Pelajaran bagus dari cerita Korea Selatan adalah kerelaan semua orang untuk mengenyampingkan kepentingan individu demi terwujudnya persatuan yang sangat dibutuhkan. Mungkin cerita akan berbeda jika negara gingseng ini tidak dirundung kehancuran hebat saat itu. Ketertinggalan di semua sisi mungkin berkontribusi menyadarkan semua orang untuk bersatu dan fokus menyelesaikan permasalahan utama negara.

Itulah sesungguhnya inti dasar dari cerita di atas. Kesulitan dan berbagai permasalahan yang kita hadapi meski terlihat berat dan sangat menyiksa, justru pemicu kebangkitan dan media untuk keluar dari kesulitan dan permasalahan.

Cerita Korea Selatan bukanlah satu-satunya cerita yang menjadi bukti bahwa keterpurukan yang hebat justru menjadi modal kuat untuk kembali menapaki kesuksesan. Sisi utama yang dibangunkan oleh kesulitan dan permasalahan adalah kesadaran akan beratnya berada dalam kesulitan. Hal ini serta merta memicu keinginan dan motivasi yang sangat kuat untuk keluar dari keadaan tersebut. Modal motivasi inilah yang kemudian membuat orang-orang sangat fokus pada satu tujuan, yaitu keluar dari permasalahan.

Tanpa sadar, target yang sangat fokus ini membiaskan target-target lain yang bersifat individu dan personal. Meski orang-orang Korea Selatan saat itu memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda secara pribadi, tetapi tujuan mereka untuk keluar dari permasalahan utama lebih dominan. Perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka sama sekali tidak menjadi penghalang untuk bersatu demi satu tujuan yaitu keluar dari permasalahan.

Idealnya, ketika kita sudah sangat paham dengan kekuatan fokus secara berjamaah. Maka akan mudah bersatu dan fokus pada tujuan utama yang jauh lebih besar dibandingkan tujuan pribadi masing-masing. Jadi, kita tidak perlu menunggu hingga kesulitan dan permasalahan luar biasa singgah. Sebab jika kita sampai pada posisi itu, bisa jadi kita tidak akan sabar menunggu kesulitan itu pergi perlahan-lahan. (i’m)

Highlight:

Kesulitan dan berbagai permasalahan yang kita hadapi meskipun terlihat berat dan sangat menyiksa, justru merupakan pemicu kebangkitan, dan media untuk keluar dari kesulitan dan permasalahan.

 

Oleh: Ilham Maulana

Leave A Reply