Sains dan Rekayasa Proses Dalam Upaya Mendukung Industri Pengolahan Hasil Pertanian

0

Indonesia dikenal memiliki keragaman hayati yang cukup tinggi di dunia, baik dari kelompok tumbuh-tumbuhan maupun kelompok hewan. Indonesia menjadi negara yang potensial dalam mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri). Meskipun demikian, kondisi yang terjadi saat ini belum menunjukkan adanya pemanfaatan potensi tersebut secara lebih serius.

Secara umum hasil pertanian mempunyai beberapa kelemahan utama, antara lain karena hasil pertanian mudah rusak/busuk, tidak tahan lama, lokal, musiman, kamba (banyak memakan tempat), dan masih melakukan proses respirasi walaupun sudah dipanen (masih hidup). Akibat utama dari kelemahan ini adalah harga hasil pertanian bersifat lemah dan labil sepanjang tahun. Demikian pula hasil perikanan mempunyai beberapa kelemahan antara lain mudah rusak/busuk, tidak tahan lama dan musiman (Patria, et al. 2009).

Contoh khusus yang dapat diangkat untuk memperjelas kelemahan hasil pertanian adalah sebagai berikut: pada saat harga cengkeh baik, banyak petani yang beralih mata pencaharian menjadi berkebun cengkeh. Namun, ketika panen cengkeh tiba, maka keuntungan besar yang diharapkan petani menjadi sirna karena anjloknya harga cengkeh. Daripada tumpukan cengkeh digudang membusuk, mau tidak mau stok cengkeh harus dilepas ke pasaran. Hal ini akan berbeda jika seandainya ada berbagai sektor agroindustri yang menunjang perkebunan cengkeh, seperti industri penyulingan minyak cengkeh, industri kimia yang memanfaatkan minyak cengkeh (agrokimia), industri rokok, industri farmasi, dan industri lainnya (dengan asumsi tidak terjadi monopoli yang merugikan petani) (Ketaren, 2009).

prof-ansar

Prof. Dr. Ir. Anshar Patria, M.Sc (Guru Besar Unsyiah, Dosen Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fak. Pertanian Unsyiah)

Kasus serupa sering kali dihadapi oleh petani/nelayan kita, misalnya pada musim buah-buahan atau ikan harga komoditi tersebut merosot. Seperti halnya pada kasus buah-buahan, kemerosotan harga ini dapat dicegah jika seandainya hasil buah-buahan tersebut ditampung oleh industri pengolahan buah-buahan seperti industri sari buah dan pengalengan buah-buahan atau hasil laut dan tambak.

Keberadaan industri pengolahan hasil pertanian, selain mendukung zona pertanian juga harus terkait dengan industri pengolahan lainnya agar dapat menyaingi produk industri tersebut yang berasal dari luar negeri. Sebagai contoh, harga gula yang dihasilkan oleh pabrik gula di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan gula impor. Namun untuk melindungi pabrik gula dalam negeri, maka produk gula impor dikenakan bea masuk yang tinggi sehingga di pasaran kita harga gula impor menjadi lebih mahal. Harga gula yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik gula di negeri lain dapat lebih rendah, selain karena penggunaan mesin-mesin pertanian yang efektif dan efisien sehingga menciptakan produktivitas lahan yang tinggi, juga tidak terlepas dari keterkaitan antar industri-industri pengolahan tebu di negara tersebut.

kesekolah-com

Dengan adanya rantai industri pengolahan tebu ini, maka limbah dari industri gula yang berupa daun tebu, molasis, bagas (ampas), dan blotong dapat diolah oleh industri lainnya menjadi bahan yang lebih berharga (mempunyai nilai tambah). Molasis misalnya, menurut Gumbira-Sa’id (2000) dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan-bahan seperti alkohol, spiritus, dan lain-lain. Molasis juga dapat diolah menjadi ether-alkohol dan MSG (mono sodium glutamat).

 

Rekayasa Proses Pangan (RPP)

Aplikasi khusus bidang-bidang rekayasa pada proses dan industri pangan memerlukan perhatian khusus untuk dikembangkan menjadi rekayasa proses pangan (RPP). Cakupan RPP memang cukup luas. Cakupan yang luas ini harus difokuskan pada upaya pengembangan agroindustri pangan sebagai andalan utama Indonesia pada pembangunan jangka panjang indonesia. Dengan pemanfataan dan pengembangan rekayasa proses pangan pada semua mata rantai kegiatan agroindustri pangan, maka pengembangan industri pangan yang didukung oleh kemampuan sumberdaya alam akan menghasilkan produk berdaya saing tinggi dengan nilai tambah yang besar yang dinikmati oleh seluruh bangsa.

jeicimaple-files-wordpress-com

Dengan demikian, pengembangan dan pemberdayaan sektor agroindustri tidak hanya dipacu dari segi aktivitas budidaya saja, tetapi juga harus memperhatikan faktor permintaan konsumen atau pengguna produk akhir. Hal tersebut sangat penting, mengingat saat ini spesifikasi produk yang diinginkan oleh konsumen cenderung lebih beragam dan dengan mutu yang lebih tinggi.

Universitas Syiah Kuala dalam kapasitasnya sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan dan teknologi harus turut berperan aktif dalam mensukseskan program pemerintah di bidang pengolahan dan pengadaan pangan berkualitas sehingga ketergantungan terhadap industri olahan pangan impor dapat diturunkan. Penelitian-penelitian ke depan perlu difokuskan ke arah Rekayasa Proses Pangan untuk menghasilkan pangan yang sehat dan berkualitas dan modifikasi bahan pangan sebagai subsitusi impor. (cds)

 

*Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Unsyiah, Kamis, 28 Juli 2016

Leave A Reply