Mimpi Para Sarjana Jantung Hati Rakyat Aceh

0

Tulisan ini merupakan juara I Lomba Blog Unsyiah 2016 yang digelar selama Mei-Juli dalam rangka menyambut milad Unsyiah ke-55 tahun

Dalam tulisan ini saya tidak perlu menjelaskan lagi tentang sejarah berdirinya Universitas pertama yang ada di Aceh, bagaimana programnya, apa saja fakultas dan siapa orang-orang intelek yang berada di dalamnya. Semua itu bisa diakses dengan membuka website Unsyiah. Di tulisan ini saya lebih tertarik membahas tentang para sarjananya.

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang dikatakan Jantung Hati Rakyat Aceh, masih jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakatnya. Bukan dari segi bangunan fisik kampus, atau jumlah keilmuan program studi dan fakultas yang ada di dalamnya, tetapi lulusan sarjana yang dihasilkan oleh perguruan tinggi negeri tersebut.

penulis

Yelli Sustarina

Mengapa saya katakan demikian? Karena banyaknya lulusan sarjana dari perguruan tinggi ini belum juga dapat mengatasi masalah rakyat Aceh sepenuhnya. Seharusnya ribuan sarjana yang lulus mampu meningkatkan status kesehatan, mendongkrak perekonomian, dan menurunkan angka kemiskinan.

Kenyataannya, Aceh masih tinggi dalam angka negatif. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh tahun 2015, Gizi buruk balita Aceh tertinggi di Sumatera. Dari 19,6% angka nasional, Aceh berada pada angka 26,3%. Begitu juga dengan angka kematian balita yang nasional berada pada angka 43%, Aceh di angka 54%.

Jumlah penderita Filariasis (kaki gajah) tahun 2008-2014, Aceh berada pada urutan pertama di Indonesia yaitu 10,051 jiwa. Gangguan mental emosional yang angka nasional berada pada 11,6%, Aceh 14,1%, sedangkan untuk masalah shizophrenia (gangguan alam perasaan), angka nasional berada pada 4,6% dan Aceh 18,5%. Belum lagi masalah anak penderita thalasemia (kelainan darah) dan anak stunting (tubuh pendek), Aceh berada pada level pertama di skala nasional.

Pertumbuhan ekonomi di Aceh belum berkualitas, hal ini terlihat dari laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) propinsi tahun 2014, Aceh berada pada angka 1,65%, sedangkan rata-rata nasional berada pada angka 5,02%. Jika dilihat dari tingkat kemiskinan pada tahun 2014, Aceh berada pada angka 16,98% sedangkan angka nasional hanya 10,96%. Sangat disayangkan propinsi yang kaya dengan sumber daya alam berupa mineral, batu bara dan migas mengalami laju pertumbuhan ekonomi paling rendah.

Jumlah pengangguran di Aceh mencapai 8,5%. Angka ini merupakan yang tertinggi di Sumatera (Serambi Indonesia, 19/05/2015). Setiap tahunnya, Aceh menghasilkan ribuan para sarjana dari perguruan tinggi negeri dan swasta. Tak ketinggalan pula dari universitas favorit yang menjadi jantung hati rakyat Aceh ini yaitu Unsyiah. Dalam setahun saja, ada empat kali wisuda yang melahirkan ribuan sarjana di setiap kali wisudanya.

Nah, kemana sekarang para sarjana tersebut? tidakkah mereka bisa mengatasi berbagai problem rakyat Aceh? Selama empat tahun para sarjana bergelimang dengan keilmuan yang telah dipilihnya sejak awal, tentu dapat memberikan kontribusi terbaik kepada rakyat Aceh setelah lulusnya.

Akan tetapi, kenyataan hanya sebagian kecil para sarjana yang mempergunakan keilmuannya sebelum disetujui oleh pemerintah, yang katanya jika sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS) barulah bisa bekerja. Pemikiran seperti ini akan mengkerdilkan ilmu yang mereka miliki. Lihat saja peminat para pelamar calon PNS yang begitu banyak dan rela mengantri demi mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Padahal banyak hal yang dapat dilakukan selain menjadi seorang PNS.

lulusan-cumlaude-unsyiah

Kegalauan Para Sarjana

Setiap mahasiswa yang akan diwisuda, pastinya ada kebanggaan tersendiri di dalam hati. Karena empat tahun atau lebih mereka berjuang untuk mendapatkan gelar sarjana, akhirnya pada hari itu mereka akan disahkan menjadi seorang sarjana.

Di lain sisi ada kegalauan di hati, mengingat apa yang akan dilakukan setelah kuliah. Cari kerja-kah, atau buka usaha. Peluang kerja yang semakin sempit dan sulitnya mendapatkan pekerjaan menambah stres para sarjana yang baru lulus. Sehingga banyak yang menjadi pengangguran terdidik akibat dari minimnya skill dan ketidaksiapan dalam menghadapi dunia kerja.

Para sarjana lebih banyak yang mencari peluang kerja dari pada menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Karena di bangku perkuliahan kita sangat jarang diajarkan untuk mengasah dan menambah keterampilan yang dapat digunakan ke masyarakat, ataupun bagaimana cara pengaplikasian keilmuan yang kita ambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Perkuliahan saat ini lebih berorentasi kepada nilai yang bagus dan mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu. Kita lebih sering disuguhkan dengan teori-teori teks book yang di lapangan jauh berbeda dari pembelajaran di kuliah. Akibatnya, para sarjana terlalu canggung untuk menerapkan keilmuannya di tengah kehidupan masyarakat.

Hal ini sungguh memprihatinkan karena mahasiswa yang seharusnya membuat perubahan bagi masyarakat malah menambah angka pengangguran yang akan menjadi masalah bagi negara. Kalau begini jadinya, untuk apa capek-capek kuliah dan menghabiskan banyak biaya kalau pada akhirnya juga menjadi pengangguran.

31

Sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah seorang teknisi, bukan akademisi yang hanya bisa belajar teori. Sayangnya, lulusan sarjana saat ini lebih banyak yang memahami sekedar teorinya saja, sedangkan praktiknya sangat jarang dilakukan. Sehingga ketika berhadapan dengan masalah yang ada di masyarakat mereka pun bingung untuk menyelesaikannya.

Misalnya seorang sarjana pertanian, saat para petani meminta untuk diajarkan cara menanam dan menghasilkan tanaman yang berkualitas unggul, mereka hanya bisa menjelaskan sesuai dengan pembelajaran yang telah didapat pada masa kuliah. Mereka sangat jarang untuk mempraktikkan langsung kepada masyarakat, karena bagaimana dia mau mempraktekkan, jika mereka sendiri tidak pernah turun ke sawah ataupun berkebun.

Bisakah masyarakat mendapatkan ilmu dari mereka, sedangkan mereka tidak pernah mengerjakannya? Tentunya sarjana yang seperti ini tidak bisa dipakai di masyarakat dan hanya menyadang gelar saja.

Begitulah sedikit gambaran problem yang di hadapi para sarjana saat ini, termasuk para sarjana lulusan Unsyiah. Bagi saya pribadi, saya tidak bangga dengan banyaknya penambahan fakultas baru, mahasiswa baru, dan lulusan sarjana baru kalau setelah keluar dari Unsyiah hanya bisa menjadi seorang pengangguran intelektual.

Kalau Unsyiah ingin menjadi jantong hatee rakyat Aceh dan kampus terbaik nusantara tentunya juga diperhatikan lulusannya agar dapat berguna bagi rakyat Aceh, bukan untuk menambah angka pengangguran di Aceh.

Leave A Reply