Amankah Rokok Elektrik?

0

E-Ciggarette atau rokok elektrik pertama kali diperkenalkan di pasar Amerika pada tahun 2007 sebagai alat membantu perokok untuk menghentikan kebiasaan merokok. Rokok elektrik atau biasa disebut dengan sistem pengiriman nikotin elektronik (ENDS) adalah alat penguap bertenaga baterai yang dapat menimbulkan sensasi seperti merokok tembakau. Tampilannya pun ada yang menyerupai rokok dan ada juga yang didesain berbeda. Rokok elektrik pertama kali dipatenkan oleh apoteker asal Tiongkok, Hon Lik, pada tahun 2003. Kemudian dipasarkan di Tiongkok pada tahun 2004 melalui perusahaan Golden Dragon Holdings (kini bernama Ruyan).

Meski rokok ini di tengah masyarakat sudah sangat terkenal, tetapi pendapat tentang pemakaiannya dalam jangka panjang masih menjadi kontroversi bagi kesehatan. Banyak kekhawatiran yang muncul akibat menggunakan rokok ini terlebih lagi kandungan bahan di dalamnya. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah rokok elektrik ini aman untuk dikonsumsi?

Dalam sebuah penelitian di Amerika pada orang dewasa yang diterbitkan Nicotine and Tobacco Research tahun lalu, menunjukkan jika 37% orang menolak rokok elektrik digunakan pada area bebas rokok. Selebihnya sebanyak 40% menerimanya. Temuan ini menjadi acuan penyebab dan ketidakpastian keamanan dalam menggunakan rokok elektrik.

1448684074224

dr. Rezqi Maulani. J (Alumni Fakultas Kedokteran Unsyiah, Mahasiswa Magister Kedokteran dan Spesialis Patologi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara)

 

Rokok Elektrik dan Regulasi

Mayoritas pengguna rokok elektrik memiliki bagian corong atau cartridge, sebuah alat penyemprot dan baterai. Cartridge mempunyai cairan yang biasanya mengandung nikotin yang akan menguap saat panas dengan alat penyemprot. Setelah cairan ini diuapkan maka pengguna rokok elektrik dapat menghirup uap ini seperti layaknya proses merokok. Cairan nikotin yang ada pada cartridge memiliki konsentrasi 24-36 mg/mL.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun lalu, menyatakan jika penggunaan rokok elektrik dari laporan call-poison centers di Amerika meningkat secara dramatis selama lebih dari lima tahun. Di tahun 2010, setiap bulan didapati hanya satu, tetapi jumlah ini meningkat menjadi 215 panggilan per bulan pada tahun 2014. Direktur dari CDC, Dr. Tom Frieden, menyerukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap rokok elektrik. Sebab penggunaan nikotin cair pada rokok elektrik bisa berbahaya. Menurut para peneliti, keracunan bisa terjadi pada anak-anak atau orang dewasa jika mengalami kontak langsung dengan cairan pada catridge. Baik itu melalui konsumsi, inhalasi atau paparan cairan pada kulit atau mata.

Sebuah penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Southern California menemukan, bahwa uap yang dihasilkan oleh merk terkenal mengandung kadar racun dari logam tertentu yang jauh lebih berbahaya daripada yang ditemukan dalam asap rokok tradisional. Prof. Sioutas, seorang peneliti menyatakan, “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa secara keseluruhan rokok elektrik tampaknya kurang berbahaya dibandingkan dengan rokok biasa. Tetapi isi dari rokok elektrik memiliki logam yang beracun seperti nikel dan kromium yang menjadi kekhawatiran bagi kita.”

Menurut Craig Youngblood, Presiden Perusahaan rokok elektrik InLife, produk buatannya lebih aman daripada rokok tembakau. Dia juga menyatakan rokok elektrik bebas polusi dan tidak berbau karena mengeluarkan uap bukan asap. Namun, Norman Edelman, kepala medis dari American Lung Association mengatakan, bahwa pernyataan rokok elektrik lebih aman belum cukup valid karena efek jangka panjang rokok elektrik belum diuji secara klinis.

www-thestar-com

WHO merilis sebuah laporan berisi anjuran untuk tidak menggunakan rokok elektrik di dalam ruangan karena produk ini bisa mengeluarkan racun seperti rokok biasa. Meski tidak mengeluarkan asap, uap rokok elektrik yang mengandung zat kimia berbahaya juga dapat menimbulkan polusi udara. WHO juga menganjurkan untuk tidak menjual rokok elektrik kepada anak-anak di bawah usia 18 tahun.

Begitu pula di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah memperingatkan masyarakat bahwa rokok elektrik yang beredar di pasaran adalah produk ilegal dan belum terbukti keamanannya. Menurut BPOM, rokok elektrik mengandung nikotin cair dan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol, dan gliserin. Jika semua bahan itu dipanaskan akan menghasilkan senyawa nitrosamine yang dapat menyebabkan kanker. (syr)

Leave A Reply