Mengembangkan Islamisasi Ilmu

0

Umat Islam harus mampu melakukan kombinasi antara pendidikan sekuler dengan pendidikan Islam. Sebab Islam memiliki Kitabul Wahid yakni Alquran dan Sunah, serta Kitabul Qaul yakni sains atau ilmu akal. Kedua ini harus dikombinasikan sesuai dengan nilai-nilai Islam agar terciptanya peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Hal itu yang disampaikan Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sekretaris Umum International Institute of Islamic Thought (IIIT), yang menggandeng Unsyiah untuk melakukan islamisasi ilmu pengetahuan. Diskusi menarik itu dirangkum dalam kegiatan focus group discussion (FGD) yang turut menghadirkan pihak UIN Ar-Raniry.

“Saat ini, umat Islam sedang dirudung krisis sistem pendidikan. Terjadi kesenjangan antara pendidikan umum dengan pendidikan Islam. Pendidikan yang berjalan di kampus dan sekolah selama ini umumnya memisahkan antara ilmu dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Lulusan doktor Harvard University itu menyebutkan, dikotomi antara ilmu pengetahuan dengan Islam merupakan pemikiran barat sebagai proses sekularisasi ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam Islam, pendidikan dan agama itu berjalan beriringan. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi ilmu dengan nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan. Umat Islam harus mampu melakukan kombinasi antara pendidikan sekuler dengan pendidikan Islam.

img_2628

Meletakkan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan awalnya memang berat. Namun, seiring waktu akan terwujud sebagaimana yang dimaksud. Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dicapai secara perlahan. Untuk itu, para tenaga pendidik dari berbagai level perlu memberikan pemahaman kepada muridnya tentang perbedaan antara pendidikan yang bercorak Islam dengan pendidikan yang sekuler.

“Misalnya, Islam melarang sistem riba, tetapi dalam pemikiran sekuler sistem riba tidak dipermasalahkan,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator IIIT Indonesia, Drs. Muhammad Siddik, M.A., mengungkapkan, tidak ada dikotomi ilmu dalam Islam. Pendidikan di kampus selama ini umumnya belum memiliki konektivitas antara ilmu dengan nilai-nilai Islam. Padahal integrasi antara ilmu yang berbasis wahyu dan ilmu berbasis akal sangat diperlukan.

“Islamisasi ilmu pengetahuan sangat penting. Epistimologi Islam perlu dikembalikan,” sebut mantan Direktur IDB kawasan Asia Pasifik itu.

Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng dalam sambutannya menyambut baik wacana ini, “Unsyiah sudah mulai menjalankan integrasi antara ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai Islam. Para dosen diminta untuk memuat nilai-nilai Islam dalam materi kuliah yang diajarkan dan beberapa fakultas sudah mempraktekkannya.”

Rektor juga menambahkan, saat ini, enam puluh persen aset nasional hanya dipegang oleh dua persen penduduk Indonesia. Ironisnya, dua persen ini merupakan kalangan non muslim. Jadi, umat Islam di Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalan untuk kembali meraih kejayaan seperti yang pernah ditorehkan Islam di masa lalu.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Farid Wajdi, mengatakan sangat sulit menggabungkan antara sistem pendidikan sekuler dengan nilai-nilai Islam. Pasalnya, Indonesia tidak memiliki dasar untuk memasukkan nilai-nilai Islam di kurikulum pendidikan.

“Semua umat Islam setuju supaya sistem pendidikan kita bercorak Islam. Jadi, perlu ada dasar terlebih dahulu supaya nilai-nilai Islam itu bisa dimasukkan dalam sistem pendidikan di Indonesia,” pungkasnya. (mr)

Leave A Reply