Cahaya dalam Keberagaman

0

Sebelum berangkat menuju Kendari, Sulawesi Tenggara, kontingen Aceh untuk Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) XIII berkumpul di Balai Senat Unsyiah. Mereka akan dilepas secara resmi oleh Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Aceh Dr.Ir. Alfiansyah Yulianur, BC. Pada PEKSIMINAS kali ini, kontingen Aceh mengirimkan 36 orang peserta dan 31 Official.

Mereka semua berasal dari berbagai kampus di Aceh. Seperti Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Universitas Malikussaleh (Unimal), Universitas Samudra Langsa (Unsam), Universitas Muhammadiyah (Unmuha), Universitas Serambi Mekkah (USM) dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh.

Kepada kontingen Aceh, Alfiansyah Yulianur yang juga Wakil Rektor Bidang Mahasiswa dan Alumni Unsyiah, berpesan agar mereka harus berusaha keras dan selalu berdoa untuk menampilkan yang terbaik. Kontingen Aceh tidak boleh sekadar hadir menjadi peserta, tetapi harus bisa menorehkan prestasi.

“Karena kita tidak mau pergi kali ini hanya sekadar pergi, tetapi harus ada yang kita tampilkan dan tunjukkan. Kita sudah berusaha sekuat tenaga dan hasilnya itulah yang terbaik untuk kita,” ucap Alfiansyah.

Selain itu, Alfiansyah juga menyampaikan sebuah pesan penting. Dengan tegas ia mengingatkan pada even nasional tersebut, kontingen Aceh harus bisa menjaga tata krama dan menghormati kearifan lokal masyarakat setempat. Berulang kali Alfiansyah menegaskan pesan tersebut. Sebab kontingen Aceh ini pergi membawa identitas Aceh. Maka tindak-tanduk mereka nantinya secara tidak langsung berpengaruh terhadap pencitraan Aceh di dunia luar.

wakil-rektor-iii-unsyiah-dr-alfiansyah-yulianur-bc-memberikan-nasihat-kepada-kontingen-peksiminas-aceh-di-ruang-balai-senat-unsyiah

“Kepergian kalian ini membawa nama baik Aceh, maka penting untuk menjaga perilaku kita sehingga orang-orang bisa mendapatkan kesan yang baik terhadap Aceh,” ucap Alfiansyah.

Bagi Unsyiah hal-hal seperti ini memang selalu menjadi perhatian. Sebab prestasi besar tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi perilaku yang baik. Kecerdasan intelektual dan keluhuran perilaku adalah dua hal yang sejatinya tidak boleh dipisahkan. Oleh sebab itu, setiap kali ada acara pelepasan mahasiswa Unsyiah yang akan mengikuti kegiatan baik skala lokal maupun nasional, amanat untuk menjaga perilaku adalah point penting yang tak pernah terlewatkan.

Seperti beberapa waktu lalu, saat Unsyiah melepas 15 mahasiswanya untuk ikut serta dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan di Kepulauan Riau. Selain Unsyiah, ada 62 perguruan tinggi lain dari seluruh Indonesia serta satu kampus luar yaitu Universitas Teknologi Malaysia (UTM) yang mengikuti KKN Kebangsaan ini. Para peserta ditempatkan di beberapa desa yang ada di wilayah Kota Batam, Kabupaten Lingga, Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun. Mengingat kegiatan ini punya interaksi yang intens dengan masyarakat, maka pihak universitas mengingatkan agar 15 mahasiswa Unsyiah bisa memberikan teladan yang baik bagi masyarakat di sana.

Amanat tersebut ternyata dipahami dengan baik oleh mahasiswa Unsyiah. Seperti yang diungkapkan Fachrul Siregar, mahasiswa Unsyiah, yang menjadi peserta KKN Kebangsaan, “Semoga kami bisa mengenalkan Unsyiah dan Aceh kepada seluruh mahasiswa Indonesia serta masyarakat Kepri di sana,” ujarnya.

Secara prestasi 15 mahasiwa Unsyiah ini telah cukup teruji. Karena mereka lolos melalui proses seleksi yang ketat. Tetapi, semua itu jelas tidak cukup untuk membawa nama baik Unsyiah serta Aceh. Mereka juga harus memiliki nilai-nilai moral untuk menguatkan identitas mereka sebagai mahasiswa yang unggul.

Apalagi pada kegiatan seperti ini mereka akan berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam. Oleh sebab itu, dengan mempertegas identitasnya sebagai mahasiswa Unsyiah, maka 15 mahasiswa ini bisa menjadi cahaya dalam keberagaman tersebut. (ib)

Leave A Reply