Sungai Batu Lembah Bujang, Peradaban Tertua di Asia Tenggara

0

Sungai Batu yang terletak di kawasan Lembah Bujang, Kedah, Malaysia, menyimpan sejarah tentang peradaban kuno di Asia Tenggara. Sungai Batu yang kini menjadi kawasan kebun sawit ditaksir telah ada sejak 500 M. Jauh sebelum dimulainya peradaban Angkor Wat di Kamboja pada pertengahan abad ke-12 atau Candi Borobudur yang dibangun pada pada 750 hingga 850 Masehi.

Letak Sungai Batu sangat strategis. Berbatasan dengan Bukit Choras di bagian utara, Sungai Muda di bagian selatan, Selat Melaka di bagian Timur, dan Lebuh Raya Utara Selatan di bagian barat. Semakin mudah sebab terdapat Gunung Jerai yang merupakan gunung tertinggi di barat semenanjung tanah Melayu yang menjadi penunjuk arah pada malam hari. Karena letaknya strategis, Sungai Batu menjadi dermaga yang sangat maju. Terlebih lagi di kawasan ini terdapat industri bijih besi, sehingga menjadi jalur perdagangan para pedagang Cina, India, dan Timur Tengah pada zaman dulu. Mereka menjadikan kawasan ini sebagai tempat menunggu pertukaran angin monsun di Selat Melaka dan Laut China Selatan.

Seiring perkembangan zaman, berbagai penelitian dilakukan untuk membuktikan peradaban di kawasan Sungai Batu, Lembah Bujang, sebagai peradaban tertua di Asia Tenggara. Tahun 1840 sampai 1970 penelitian dilakukan peneliti asing dan mulai tahun 1970 sampai sekarang penelitian dilakukan para peneliti Malaysia. Selama periode 1840 sampai 2007 para peneliti menyimpulkan peradaban di Sungai Batu, Lembah Bujang, tidak lebih awal dari pada abad ke-5. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan dua pusat perdagangan yaitu pusat cosmopolitan di Sungai Mas sebagai fase Budha dan pangkalan/pelabuhan Bujang sebagai fase Hindu Siwa.

img-20161024-wa0003

Amsir Taib (Alumni FMIPA Fisika Unsyiah, sedang menempuh pendidikan master di Universiti Sains Malaysia)

Selain itu ditemukan juga artefak seperti keramik dari Cina, Thailand, dan Timur Tengah; gelas dari Mesir dan Syria; manik-manik dari India dan Jawa. Penemuan ini menjadi bukti adanya perdagangan besar di Sungai Batu yang dulunya pelabuhan industri yang berkembang maju.

Penelitian ini terus berlangsung hingga kini. Pada tahun 2009, Kementerian Warisan Nasional, Pelayanan Informasi, Komunikasi dan Budaya bekerja sama dengan Pusat Penyelidikan Arkeologi Global (PPAG), Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang, melakukan penelitian berkelanjutan. Ini dilakukan untuk menguak lebih dalam mengenai peradaban kuno di kawasan Sungai Batu, Lembah Bujang. Penelitian tidak hanya dilakukan dengan metode arkeologi, tapi juga dengan metode geofisika (geolistrik, seismik, ground penetration Radar (GPR), magnetik, dan graviti) dengan melibatkan peneliti dari Pusat Penyelidikan Geofisika, Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang. Penelitian dilakukan dengan pemetaan lebih dalam untuk menggali lebih banyak struktur bangunan (candi) dan artefak guna melengkapi penemuan sebelumnya.

Penelitian di bawah koordinasi PPAG ini telah menemukan banyak hal baru di kawasan Sungai Batu. Seperti ditemukannya 97 lokasi seluas 4 km2 sebagai kawasan peradaban, monumen ritual agama Hindhu Budha yang ditaksir berusia 2.000 tahun, dan terdapat 20 tungku peleburan besi. Penemuan ini membuktikan ada kemampuan teknologi tinggi dalam kehidupan masyarakat purba di Sungai Batu. Selain itu juga ada bukti lain berupa aktifitas peleburan besi dengan ditemukannya bijih besi, sisa besi, tuyere (peniup angin), sisa tungku arang dan abu pembakaran serta jutaan batang logam. Berdasarkan metode Optically Stimulated Luminescence (OSL) semua benda ini ditaksir berusia sekitar 535 SM atau lebih kurang 2.000 tahun.

Saat ini, pemerintah Malaysia sedang berusaha memasukkan kawasan Sungai Batu ke UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Sehingga dapat menarik para wisatawan dan menambah devisa negara serta membuka lapangan kerja baru. Sebelumnya, UNESCO telah menjadikan Taman Negara Gunung Mulu di Sarawak, Taman Negara Gunung Kinabalu di Sabah, Lembah Lenggong di Perak, tempat bersejarah di Melaka, dan Georgetown di Pulau Pinang sebagai warisan dunia. (cds)

Leave A Reply