Sisi Positif Lalat

0

Lalat, serangga terbang berukuran kecil ini identik dengan kata jorok, kotor, menjijikkan, dan sumber penyakit. Lalat merupakan salah satu serangga urban yang populasi dan penyebarannya berkaitan dengan aktifitas manusia. Perkembangbiakannya meningkat sejalan dengan perilaku manusia. Berbagai penyakit yang ditularkan oleh lalat antara lain virus, bakteri, protozoa, dan telur cacing yang menempel pada tubuh lalat dan ini tergantung dari spesiesnya. Namun, lalat tidak hanya menjadi serangga yang merugikan dan membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Di samping tempat hidupnya kotor dan sering dianggap menyebar penyakit, ternyata lalat juga memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Berikut beberapa sisi positif dari lalat yang perlu kita ketahui.

 

  • Lalat Sebagai Alternatif Sumber Protein Pakan Ternak Unggas

Tubuh lalat rumah (Musca domestica) mengandung 58% protein dan pada larva mengandung 56% protein. Kandungan nutrisi yang relatif cukup tinggi ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan campuran pakan ternak. Beberapa hasil riset melaporkan bahwa kandungan protein larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau yang biasa disebut lalat tentara hitam, memiliki kandungan protein kisaran 40% hingga 50% dengan kandungan lemak antara 29% hingga 32% yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan campuran pakan ayam atau ikan. Terlebih lagi perkembangbiakan larvanya hanya membutuhkan media yang berupa bahan-bahan organik yang telah membusuk.

Lalat BSF bukan merupakan vektor penyakit seperti lalat rumah atau lalat hijau. Pemanfaatan BSF sebagai agen biokonversi sekaligus juga mampu mengurangi populasi lalat rumah (Musca domestica) dengan cara mengeluarkan sinyal kimia di sekelilingnya yang bisa mencegah lalat rumah bertelur di daerah tersebut. Selain itu, ekstrak etanol dari larva BSF juga bersifat antibakteri untuk bekteri gram positif seperti Klebsiella pneumonia, Neisseria gonorrhoea dan Shigella sonnei tetapi tidak efektif untuk bakteri gram positif seperti Bacillus subtilis, Streptococcus mutans dan Sarcina lutea. Laporan lain menyebutkan bahwa larva BSF mampu menurunkan populasi Salmonella spp, dan Escherichia coli.

img_20160226_0904593

Malahayati (Mahasiswi Pasca Sarjana Biologi Unsyiah)

  • Lalat Berperan Dalam Entomologi Forensik

Entomologi forensik bisa didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari serangga untuk digunakan dalam keperluan penanganan masalah-masalah kriminal, khususnya yang melibatkan mayat. Ada tiga kategori pembagian entomologi forensik berdasarkan bidang aplikasinya, yaitu: entomologi forensik urban, entomologi forensik produk simpanan, dan entomologi forensik medikolegal.

Lalat adalah hewan yang paling umum digunakan sebagai serangga patokan dalam entomologi forensik karena mobilitas dan kepekaan mereka yang tinggi akan mayat. Dengan adanya entomologi forensik maka dapat membantu penyelidikan mengenai waktu dan proses kematian korban. Selain lalat, serangga-serangga pemakan bangkai yang lain semisal semut, kumbang pemakan bangkai, dan kecoa juga kerap diselidiki dimana serangga-serangga tadi biasanya baru muncul jika usia mayat sudah lebih dari seminggu.

 

  • Penelitian Lalat Mengenai Penangkal Anti Kuman

Ilmuwan Jerman dari Universitas Hall menemukan bahwa dalam tubuh lalat terdapat mikrab-mikrab sejenis fitriat yang diberi nama Ambaza Mouski dari golongan antomofterali. Mikrab-mikrab ini hidup di bawah tingkat zat minyak dalam perut lalat. Selanjutnya di tahun 1947, Ernestein, seorang ilmuwan Inggris, menyimpulkan bahwa fitriat tersebut dapat memusnahkan bermacam bakteri diantaranya bakteri penyebab darah menjadi seperti grume, kuman disentri, dan bakteri typhoid. Pada tahun yang sama, Dr. Muftisch juga meneliti hal yang sama dan menyimpulkan bahwa satu sel miktab tersebut dapat memelihara lebih dari 1.000 liter susu dari bakteri Thyphoid, disentri, dan lainnya. Para peneliti lain juga menyimpulkan hal yang sama tentang mikrab pada lalat. Sekaligus membuktikan bahwa berbagai macam penyakit dan bakteri pada lalat hanya terdapat pada ujung kaki lalat bukan pada seluruh tubuhnya.

 

  • Penelitian Lalat di Bidang Genetika

Lalat buah (Drosophila sp) merupakan jenis yang paling sering dipakai dalam penelitian bidang genetika. Beberapa waktu lalu, tim peneliti internasional telah berhasil mengurai dan memetakan kode genetik lalat tsetse, serangga penghisap darah penyebar penyakit tidur Afrika yang mematikan. Mereka berharap bisa menggunakan rahasia biologis lalat itu untuk membasmi penyakit tidur. Genom lalat tsetse ukurannya dua kali dari genom lalat buah, tapi hanya sepersepuluh dari genom manusia. Lalat tsetse punya sekitar 12.000 gen dan 366 juta kode genetik.

Dari beberapa manfaat positif lalat tersebut diketahui bahwa lalat tidak selamanya membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai lalat sehingga dapat mengubah dampak negatif lalat menjadi dampak positif yang lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia. (cds

Leave A Reply