Menggerakkan Semangat Keberartian

0

Seseorang yang berjiwa besar tidak hidup untuk dirinya sendiri. Meski dirinya telah sukses, ia tetap merasa bertanggungjawab terhadap masyarakat di sekitarnya. Orang-orang dengan karakter demikian, memiliki orientasi yang jelas terhadap apapun yang dilakukannya yaitu menjadi manusia yang berarti. Ia selalu punya cita-cita luhur untuk menjadi sebaik-baiknya manusia seperti yang disampaikan Nabi Muhammad Saw, yaitu manusia yang paling besar manfaatnya.

Pesan inilah yang disampaikan oleh Rektor Unsyiah saat mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Penduli Pendidikan Aceh. Dalam sambutannya, Rektor mengatakan, meski Unsyiah secara institusi telah sukses dengan meraih akreditasi A. Namun, hal ini tidak akan berarti apa-apa jika mahasiswa atau alumni Unsyiah tidak bisa memberikan manfaat yang berarti bagi masyarakat.

Sebutan Unsyiah sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh sebenarnya sudah cukup menjelaskan, jika Unsyiah dan masyarakat Aceh adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Ada harapan besar masyarakat terhadap Unsyiah, dan harapan ini telah menjadi panggilan jiwa bagi segenap civitas akademika Unsyiah. Oleh sebab itu, Rektor mengharapkan semua pihak harus bersinergi untuk sama-sama membenahi berbagai permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Harapan ini adalah pesan jika Rektor ingin gerakan sosial pembenahan ini lahir dari kampus. Sebab kampus adalah tempat untuk melahirkan generasi intelektual. Jika mengutip ucapan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Mohammad Nuh, kampus adalah tempat untuk merencanakan kehidupan. Maka, gerakan sosial lebih punya nilai karena berlandaskan ilmu pengetahuan.

pegawai-unsyiah-tampak-penuh-semangat-menarik-tambang-pada-hari-keluarga-kesuksesan-hanya-akan-tercapai-jika-kita-bekerja-dengan-visi-yang-sama

Pesan Rektor ini ternyata mampu diterjemahkan baik oleh mahasiswa Unsyiah. Beberapa kegiatan mahasiswa telah mampu menyentuh persoalan masyarakat. Contohnya, kegiatan sosial yang dilakukan oleh tiga organisasi besar mahasiswa di lingkungan Unsyiah yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA, Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) FMIPA dan KSR Palang Merah Indonesia (PMI) 01 Unsyiah.

Ketiga organisasi ini sepakat untuk mengadakan penanaman 300 batang pohon bakau (mangrove) di kampung Lampague, Aceh Besar. Aksi ini dilakukan untuk memperingati Hari Bumi sekaligus memberikan pesan kepada masyarakat untuk peduli pada kondisi lingkungan di pesisir pantai.

Lalu ada pula kampanye perangi HIV dan NAPZA lewat Healthy School yang dilaksanakan KSR PMI Unit 01 Unsyiah. Kampanye ini berlangsung di beberapa sekolah Banda Aceh. Hadirnya kegiatan ini berawal dari keresahan mereka melihat tingginya pengguna narkoba dan penderita HIV.

Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah tersangka kasus narkotika terus meningkat. Selain itu, setiap tahunnya, sekitar 1.800 orang meninggal karena narkoba. Sementara untuk kasus HIV, Indonesia merupakan negara pengidap terbesar di Asia. Oleh karena itu, KSR PMI Unsyiah secara sengaja melakukan sosialiasi ini khusus kepada pelajar. Alasannya, sebab pelajar sering menjadi sasaran utama dan sangat rentan terhadap bahaya narkoba maupun HIV.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak pelajar hidup sehat dengan tidak mengkonsumsi narkoba dan memerangi HIV,” sebut Nuafni Fazriani, selaku panitia publikasi pada kegiatan ini.

Apa yang dilakukan mahasiswa Unsyiah di atas adalah contoh kecil gerakan sosial yang berdampak bagi masyarakat. Mereka berupaya menyelesaikan permasalahan masyarakat dengan mengkombinasi ilmu pengetahuan dan rasa kepedulian. Inilah dua kunci yang pada akhirnya eksistensi mahasiswa Unsyiah benar-benar mendapatkan tempatnya tersendiri di hati masyarakat. (ib)

Leave A Reply