Banyak Belajar di Negeri Tirai Bambu

0

Desy Permatasari, mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala, terpilih mengikuti Pertukaran Pemuda antara Indonesia–Tiongkok (PPIT) atau Indonesia-China Youth Exchange Program (IChYEP) di China, 21-30 September lalu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan negara sahabat yang telah berlangsung sejak tahun 1973. Gadis kelahiran Lhokseumawe ini menjadi perwakilan Aceh dan bergabung bersama 99 pemuda lainnya dari seluruh Indonesia.

Tahun ini merupakan tahun kedua program PPAN dengan sistem online yang dibuka secara nasional. Seleksi ini dilaksanakan oleh anakmuda.net bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia. Terdapat tiga tahapan seleksi. Tahap pertama, peserta mengisi form aplikasi dan CV, tahap kedua pembuatan pitch deck (presentasi) program yang akan dilakukan saat kembali atau biasa disebut Post Program Activity (PPA). Dan tahap ketiga wawancara secara online dan study case. Hasil akhir terpilih 20 pemuda perwakilan Indonesia melalu seleksi online dan bergabung bersama pemuda lainnya yang terpilih melalui seleksi daerah. Setelah terpilih, Desy harus menyiapkan diri sebaik-baiknya. Termasuk persiapan cultural performance (penampilan budaya), pemahaman tentang negara tujuan, dan Pre-Departure Training (PDT).

Cultural performance yang saya dan delegasi lainnya tampilkan di Tiongkok adalah tari Ratoh Jaroe. Untuk menambah pengetahuan, saya juga mempelajari hubungan Indonesia dan Tiongkok, jalur sutera maritim, dan poros maritim dunia. Karena background saya medis, saya juga mempelajari pengobatan herbal agar dapat berdiskusi lebih banyak dengan pemuda Tiongkok,” jelas dokter muda yang sedang menjalani pendidikan di Rumah Sakit Zainal Abidin ini.

img_4249

Desy Permatasari

Sebelum berangkat ke Tiongkok, Desy dan delegasi lainnya harus menjalani PDT di Jakarta. Selama PDT, mereka dibekali beberapa materi, seperti pemahaman hubungan diplomatik Tiongkok dan Indonesia oleh Edy dan Mirhan Tabrani, Kepala Bidang Kemitraan Luar Negeri; Kebijakan kemenpora tentang kepemudaan oleh Imam Gunawan, Asisten Deputi Peningkatan Sumber Daya Pemuda Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora RI; Becoming Youth Ambassador oleh Livita Sumaly, dan juga sesi grooming serta belajar bahasa Mandarin secara singkat oleh alumni dan sharing mengenai PPAN.

Selama di Tiongkok, semua kegiatan diselenggarakan oleh All China Youth Forum sebagai perwakilan dari pemerintah Tiongkok. Kegiatan tersebut di antaranya institutional visit (kunjungan kenegaraan) ke museum, wirausaha kaum muda, pendidikan, bisnis, seni budaya, dan wisata, courtesy call (kunjungan ke institusi pemerintah), culture performance, dan lecture (materi kepemudaan).

Desy juga berkesempatan mengunjungi Great Wall Juyongguan dan Menara TV & Radio Mutiara Oriental dan Museum Perkembangan Sejarah Kota Shanghai (Oriental Pearl Tower). Ia juga mengunjungi Yinchuan yang merupakan daerah otonom Islam, dimana mayoritas penduduknya adalah suku Hui yang mayoritas memeluk agama Islam. Di daerah ini terdapat sekitar 2.2 juta penduduk muslim atau 36 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Ningxia.

“Di sana kami berkunjung ke Museum Islam Tiongkok yang bernama Sheng Shi Huixiang dan berkunjung ke desa baru muslim imigran etnis Hui, Tiongkok. Kami juga berkunjung ke mesjid terbesar di Kota Wuzhong. Masjid ini memiliki sejarah panjang dan menjadi saksi perkembangan agama Islam etnis Hui. Mesjid ini termasuk urutan kelima mesjid terbesar di China dan menduduki urutan ke-46 mesjid terbesar yang ada di seluruh dunia. Terakhir, kami mengunjungi Museum Kedokteran Etnis Hui di Universitas Kedokteran Ningxia untuk memperlajari sejarah kedokteran serta pengobatan herbal di Tiongkok,” ceritanya.

Bagi mahasiswi yang pernah menjadi Kepala Biro Hubungan Antar Lembaga External BEM FK Unsyiah ini, menginjakkan kaki di Negeri Tirai Bambu merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Banyak perubahan yang ia rasakan yang mempengaruhi hidupnya.

“Perubahan yang paling saya rasakan adalah perubahan cara berpikir. Saya berkesempatan menghabiskan waktu bersama 99 delegasi Indonesia yang mempunyai background yang berbeda-beda. Saya juga bisa sharing dengan pemuda Tiongkok, sehingga  membuat pemikiran saya semakin terbuka dan semakin menerima perbedaan yang ada. Serta kesempatan untuk mempelajari ekonomi dan politik, sesuatu yang sangat jauh dari background pendidikan saya,” sambungnya.

Desy juga berharap bisa mendapatkan lagi kesempatan mengunjungi dan belajar di berbagai negara lain, seperti Jerman dan Jepang.

“Saya berharap dapat melanjutkan pendidikan ke Jerman dan melihat serta merasakan langsung etika kerja masyarakat Jepang,” pungkasnya. (ac)

Leave A Reply