Sejarah dan Budaya; Daya Tarik Wisata Bangkok

0

Thailand adalah negara non muslim kedua di dunia yang memiliki predikat muslim friendly versi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2015. Karena Thailand telah menyiapkan produk dan jasa yang dibutuhkan bagi wisatawan muslim. Misalnya, restoran halal dan tersedianya mushala di berbagai mal. Selain itu, mempermudah mencari makanan halal atau masjid, wisatawan bisa mengunduh aplikasi Thailand Muslim Friendly Destination secara gratis di smartphone berbasis iOS dan Android. Aplikasi yang diluncurkan Badan Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand/TAT) tersebut juga memberikan panduan untuk menuju ke sana.

Bagi turis yang datang dari negara-negara ASEAN akan lebih mudah untuk masuk ke negara yang dikenal dengan julukan Gajah Putih ini. Pasalnya, anda tidak perlu membayar visa, cukup mengisi form arrival yang disediakan oleh awak pesawat saat penerbangan. Form tersebut diserahkan ke imigrasi bandara untuk mendapatkan stempel pada pasport.

Saya berkesempatan berkunjung ke Bangkok menghadiri undangan dari salah satu organisasi internasional yang bergerak di bidang kepemudaan, yaitu Global Leadership Institute. Perbedaan awal yang terlihat saat saya menginjakkan kaki di Thailand adalah bahasanya. Bahasa Thai tidak menggunakan huruf latin seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tapi menggunakan aksara Abugida yang dapat kita lihat di banyak tempat. Aksara ini tergolong unik dan sulit dipahami oleh orang asing seperti saya. Namun dibeberapa pengumuman atau media informasi terdapat terjemahan dalam bahasa Inggris yang memudahkan pendatang.

ariful-azmi-usman

Ariful Azmi Usman  *Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsyiah, penulis buku Istanbul Warna Ibukota Dunia

Selama empat hari disana, saya juga menyempatkan waktu menjelajahi kota. Berkeliling Bangkok dapat menggunakan berbagai cara seperti skytrain, metro, taksi, atau kendaraan tradisional yakni tuk-tuk yang tidak jauh berbeda dengan bemo.

Selain kendaraan darat, ada juga Chao Phraya Express yang melintasi Sungai Chao Phraya. Jalurnya dibedakan lewat warna bendera mulai dari oranye, kuning, hingga biru. Warna yang terakhir itu merupakan Tourist Boat. Untuk naik kapal ini cukup murah hanya 30 Baht (Rp 9.300) untuk sekali jalan. Kendaraan sungai lainnya adalah Saen Saep Express Boat yang melaju di Kanal Saen Saep. Menurut masyarakat Bangkok, kapal ini sering digunakan pekerja kantoran untuk menghindari macet di jalanan.

Selain transportasi yang memadai, Bangkok juga kaya akan budaya. Salah satunya adalah budaya menggunakan pakaian sopan untuk masuk ke tempat-tempat wisata yang dianggap suci oleh masyarakat Thailand yang mayoritas Budha. Hal ini mengingatkan saya tentang peraturan bagi turis-turis yang datang ke Aceh yang ingin masuk ke pekarangan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Para turis manca negara di Bangkok yang terlanjur berpakaian minim tidak diizinkan masuk ke tempat-tempat wisata seperti Kuil Buddha Berbaring (Wat Pho). Namun, tidak perlu khawatir sebab disediakan pakaian khusus yang lebih sopan. Celana pendek juga tidak diperbolehkan karena akan diperiksa ketat oleh pihak keamanan. Saya juga harus memasukkan sepatu ke dalam kantong plastik, lalu dijinjing agar bisa masuk ke Wat Pho.

Kuil Buddha Berbaring atau disebut Wat Pho merupakan salah satu candi Buddha yang sudah menjadi tempat wisata di Bangkok. Kuil Wat Pho yang mempunyai nama resmi Wat Phra Chetuphon Vimolmangklararm Rajwaramahaviharn dibangun tahun 1688 dan salah satu kuil paling tua dan besar di Bangkok.

Dari amatan saya, Wat Pho memiliki keunikan tersendiri yakni keberadaan patung Buddha yang sedang berbaring santai. Patung berlapis emas ini berukuran panjang lebih dari 45 meter dan tinggi sekitar 15 meter. Setiap pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar 100 Baht atau sekitar Rp 35.000.

Sekitar sepuluh menit dari Wat Pho, saya menuju Royal Grand Palace (Phra Borom Maha Ratcha Wang), kompleks bangunan Istana Raja di Bangkok, Thailand. Istana ini berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand sejak abad ke-18.

“Royal Grand Palace mulai dibangun tahun 1782 pada masa pemerintahan Raja Rama I, ketika raja memindahkan ibukota kerajaan menyeberang sungai dari Thonburi ke Bangkok. Di kompleks Royal Grand Place ini terdapat Wat Phra Kaew dan Balairung Raja yang terbuat dari emas,” kata Carolina, pemandu wisata.

Untuk masuk ke tempat itu, pemeriksaan jauh lebih ketat. Namun, saya lupa berapa harga tiket masuknya. Berkunjung ke Royal Grand Palace juga diwajibkan mengenakan pakaian sopan. Wanita tidak boleh mengenakan baju tanpa lengan, celana pendek, ataupun legging. Pria tidak boleh mengenakan celana pendek. Sebelum masuk kompleks, pengunjung akan diperiksa oleh penjaga apakah pakaiannya cukup sopan. Jika tidak, harus segera meminjam pakaian di tempat peminjaman.

Berlibur ke Bangkok memang sangat menyenangkan. Ibukota Thailand ini memiliki banyak tempat wisata yang menarik untuk dijelajahi, kuliner yang enak, dan surga belanja.  Kota ini memiliki ribuan kuil sehingga terkenal dengan wisata temple. Sebagai Ibukota negara ketiga yang saya kunjungi setelah Kuala Lumpur dan Istanbul, Bangkok ternyata juga sangat kental dengan wisata sejarah dan budayanya di tengah arus kehidupan modern. Peninggalan sejarah tetap menjadi pilihan bagi turis manca negara untuk berwisata.

Leave A Reply