Bioetanol Gel Bahan Bakar Alternatif Ramah Lingkungan

0

Saat ini, krisis energi menjadi salah satu isu global yang sedang kita hadapi. Ini didasari kebutuhan masyarakat yang terus meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia. Kenyataan ini membuat para ahli mencari solusi untuk memunculkan energi alternatif yang berasal dari bahan baku nabati yang dapat diperbaharui. Terlebih lagi bahan bakar fosil yang selama ini kita gunakan tidak dapat diperbaharui. Oleh karena itu, bahan bakar alternatif menjadi salah satu solusi untuk energi cadangan masa depan.

Ada beberapa bahan bakar alternatif yang dapat dihasilkan seperti bioediesel atau bioetanol. Bioetanol cair telah banyak digunakan dan telah mulai didistribusikan. Brazil merupakan negara nomor satu terbesar pengguna bioetanol. Tapi di satu sisi, penggunaan bioetanol cair menjadi penyebab utama kebakaran di negara itu. Hal ini dikarenakan sifat etanol yang mudah menguap dan terbakar.

Hal ini menjadi latar belakang penelitian untuk menghasilkan bioetanol cair menjadi bioetanol gel yang memiliki laju penguapan rendah sehingga mudah untuk didistribusikan, pengemasan, dan aman bagi masyarakat dan lingkungan. Bioetanol gel berfungsi menggantikan minyak tanah yang mulai langka di pasaran serta berharga tinggi. Bioetanol gel juga praktis dibawa para pendaki gunung untuk berkemah.

Bioetanol cair dapat dibuat dengan jagung, singkong, tebu atau bahan baku lain yang mengandung gula untuk proses fermentasi menghasilkan bioetanol. Akan tetapi, bahan baku ini memiliki kelemahan yaitu dapat mempengaruhi jumlah pangan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan molases atau limbah pabrik gula menjadi alternatif untuk bahan baku pembuatan bioetanol. Setelah didapatkan bioetanol cair, maka dengan penambahan Carboxyl Methyl Celullosa dapat menghasilkan bioetanol gel yang lebih aman dan ramah lingkungan.

22434

Bioetanol gel diperoleh melalui dua tahap proses inti. Tahap pertama adalah pembuatan bioetanol cair dari molases, dan tahap kedua pembuatan bioetanol gel dari bioetanol cair. Dengan catatan, molases yang memiliki kadar gula tinggi tidak dapat digunakan sebagai bahan baku. Oleh karena itu, harus dilakukan penjernihan molases sampai kadar 12% yang diuji dengan menggunakan alat refraktometer. Tambahkan sejumlah aquadest lalu panaskan dan aduk pada suhu 70oC. Larutan kemudian difermentasi dengan ragi tape, urea, dan NPK sebagai nutrisi mikroba. Selanjutnya, fermentasi yang berjalan 3×24 jam dilakukan pemurnian dengan menggunakan alat distilasi hingga diperoleh bioetanol cair.

Tahapan kedua, menganalisa bioetanol cair hasil distilasi menggunakan gas cromatography. Tahapan ini untuk mengetahui kadar etanol yang terkandung di dalamnya agar menjadi gel. Carboxyl Methyl Cellulosa atau biasa dikenal CMC adalah zat pengental yang digunakan dalam bioetanol karena lebih ekonomis, mudah didapat, memiliki sifat mudah terbakar, serta tidak menimbulkan jelaga. CMC dilarutkan dalam aquadest hingga membentuk gel dan dicampur dengan bioetanol cair sehingga diperoleh bioetanol gel. Dilakukan beberapa analisa terhadap bioetanol gel untuk mengetahui nilai kalornya menggunakan bomb calorimeter dan viscometer brookfield untuk mengetahui tingkat kekentalannya.

Penelitian ini sangat berguna bagi kegiatan home industri atau kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan oleh Ayu Nova Rida, Ida Afriani, Cut Wildayati, dan Nur’Aisyah dengan bimbingan Hisbullah, ST., M.Eng.Sc. dan Dr. Ir. Marwan selaku dosen Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala. (cds)

 

Ayu Nova Rida dan Ida Afriani

*Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia

Leave A Reply