Pendidikan Tinggi Melahirkan Sikap Terpuji

0

Kita kadang pernah menjadi orang kampung. Minimal pernah tahu jika di dunia ini ada daerah berlabel kampung atau pernah mengunjunginya. Banyak orang yang berasal dari kampung kemudian hijrah ke kota lalu memilih menetap di sana. Disaat telah menetap, mereka pun dilabeli orang kota. Padahal, sama saja, kita yang kini berada di kota menjadikan kampung sebagai kenangan masa kecil. Masa yang pernah dilalui hampir semua orang.

Biasanya, orang kampung yang hijrah ke kota memiliki beragam maksud dan tujuan. Ada yang ingin berdagang, mencari pekerjaan, menimba ilmu, dan sebagainya. Anda tentu menjadi salah satu di antara aktivitas yang saya sebutkan tadi. Saya tertarik pada bagian menimba ilmu. Mereka yang berasal dari beragam budaya dan karakter hijrah ke kota untuk menjadi cerdas. Ini dilakukan  agar tampil dan dipercayai oleh masyarakat. Di antara yang orang cerdas itu, ada juga yang ingin tampil hebat, dibanggakan, atau menaikkan derajat sosial.

Saat menimba ilmu di universitas, mereka dilabeli sebagai mahasiswa dan kerap menyebut dirinya sebagai agen perubahan dan agen aksi yang siap menyerahkan jiwa raga demi kepentingan rakyat. Selain itu, mereka juga dituntut memprioritaskan studi agar meraih kesuksesan. Salah satunya melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

foto-penulis-edukasi-muarrief-rahmat-s-pd

Muarrief Rahmat, S.Pd *Alumni Bimbingan Konseling, FKIP, Unsyiah

Kegiatan KKN mendorong mahasiswa untuk melaksanakan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, patut disayangkan jika masih ada mahasiswa yang tidak setuju dengan kegiatan KKN. Bahkan terkadang, saat hadir di tengah masyarakat, mereka memposisikan diri sebagai orang yang ‘berada’. Asumsi ini saya dapati dari beberapa teman saya yang mengikuti KKN dan merasakan kurang nyaman saat berada dalam satu tim seperti yang diuraikan di atas. Terkadang bagi mereka yang menganggap KKN tidak terlalu penting, bisa dikatakan kurang memaknai kehidupan. Namun, anggapan ini tidak bisa disamaratakan untuk semua mahasiswa.

Seharusnya, mereka yang telah menjadi mahasiswa lebih sadar bahwa esensi pendidikan adalah mencerdasi bangsa dengan sikap santun dan ramah kepada siapa saja tanpa membedakan ras, agama, apalagi status sosial. Sebab setiap mahasiswa patut menjalankan tri dharma perguruan tinggi yang salah satu poinnya menekankan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya itu, selepas menjadi sarjana, terkadang ada juga mahasiswa yang tidak ingin mengabdi di kampung halaman. Padahal, di perantauan juga tidak memiliki pekerjaan jelas. Lagi-lagi orang yang lahir dari dunia pendidikan tinggi tidak menunjukkan ekpresi dirinya kepada masyarakat. Jika seperti ini, apalah arti memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei?

Maka tak salah ketika Pramoedya Ananta Toer −sastrawan Indonesia− berujar “Seorang terpelajar harus belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Ini menjadi rujukan bagi mahasiswa untuk mengedepankan hal baik dalam pendidikan tinggi. Mereka diharapkan mampu berpikir objektif, tanpa terkungkung pola pikir subjektif. Saat mahasiswa mampu berlaku adil, sikap mereka diharapkan memihak kepada kaum lemah yang membutuhkan dukungan. Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus kembali kepada masyarakat bawah yang tunduk kepada kepentingan dan keadilan orang banyak. Hal sama diutarakan Tan Malaka, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah mengganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan tidak diberikan sama sekali.

Pendidikan yang baik adalah yang mampu membekas dan berperan dalam keseharian masyarakat. Ia mampu hadir beriringan dengan kebudayaan sehingga menciptakan peradaban. Sudah sepantasnya, negara ini mengedepankan pendidikan agar cita-cita mencerdaskan bangsa terwujud. Sekaligus menjadikan Indonesia lebih bermartabat dan dihargai bangsa-bangsa lain. (mr)

Leave A Reply