Pembuktian Ilmu Tiga Guru Besar

0

“Menurut data dari Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada akhir tahun 2015 lalu, jumlah guru besar di seluruh Indonesia sekitar 5.300 orang. Padahal jumlah program studi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia mencapai 22 ribu. Sedangkan saat ini, mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi mencapai 6,3 juta mahasiswa. Perbandingannya, seorang guru besar di Indonesia harus melayani lebih dari seribu orang mahasiswa.”

Pemaparan di atas disampaikan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng  saat pengukuhan tiga guru besar Unsyiah di gedung AAC Dayan Dawood, Jumat (4/3). Tiga guru besar yang dikukuhkan, adalah Prof. Dr. Ilyas Ismail, S.H., M.Hum (Fakultas Hukum), Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc. (Fakultas Pertanian), dan Prof. Dr. Drs. Usman Kasim, M.Ed (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

Penambahan tiga guru besar ini tidak serta-merta menutupi kekurangan guru besar di Indonesia. Namun, setidaknya, kehadiran mereka dengan ragam ilmu ini membantu memulihkan Aceh yang baru bangkit dari musibah besar dan konflik berkepanjangan.

Prof. Dr. Ilyas Ismail, S.H., M.Hum, yang tampil pertama kali menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Hak Garap Sebagai Alternatif Hak Atas Tanah Dalam Upaya Pemerataan Pengusahaan Tanah Pertanian”. Pemaparan ini sangat menarik sebab berhubungan langsung dengan mayoritas masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya di lahan pertanian. Namun, pada satu sisi masih terikat dengan peraturan hukum. Hak garap lahan pertanian merupakan sebuah aturan yang berbicara soal pertanian.

Menelaah keputusan kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 2003, dijelaskan bahwa tanah garapan adalah sebidang tanah yang sudah atau belum dilekati dengan sesuatu hak yang dikerjakan dan dimanfaatkan oleh pihak lain baik dengan persetujuan atau tanpa persetujuan yang berhak dengan atau tanpa jangka waktu tertentu.

guru-besar-2

Hak garap yang dimaksudkan di sini sebagai hak untuk mengerjakan tanah yang bukan miliknya (yang meliputi tanah milik orang lain dan tanah Negara) berdasarkan suatu alas hak yang sah. Oleh karena itu, hak garap dapat berdiri atas tanah milik orang lain, baik milik perorangan, komunal, dan atas tanah negara.

“Hak garap atas tanah milik perorangan terjadi berdasarkan perjanjian otentik antara pemilik tanah dengan penggarap, bukan perjanjian gadai, bagi hasil, dan sewa,” kata Prof Ilyas.

Sementara itu Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc, menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Kontribusi Ketahanan Pakan (Feed Security) dan Keamanan Pakan (Feed Safety) Terhadap Program Swasembada Daging Nasional Dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)”. Kajiannya bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan terutama daging secara nasional. Selain itu diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan peternakan di Indonesia.

Menurut Prof Samadi, program swasembada daging tidak dapat terlaksana jika tanpa dukungan pakan yang baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebab tantangan yang dihadapi dunia peternakan saat ini adalah rendahnya produktivitas dan kualitas bibit, minimnya prasarana dan sarana pendukung, regulasi peternakan yang belum sempurna, dan berbagai penyakit menular dan zoonosis yang masih dijumpai pada peternak.

Berkaitan dengan pakan, Prof Samadi menambahkan, Indonesia masih jauh ketinggalan dengan negara-negara maju. Sampai saat ini Indonesia belum memiliki standarisasi pakan dan daftar kebutuhan nutrisi masih menggunakan literatur dari luar yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi ternak di Indonesia.

Ada beberapa kebijakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan ketahanan pakan antara lain untuk jenis ternak ruminansia ketersediaan bibit dan jenis hijauan, menyediakan pakan ternak unggul, rehabilitasi lahan padang pengembala ternak, hingga pengolahan pakan melalui fermentasi, amoniasi, serta pengawetan bahan pakan baik dalam bentuk silase dan hay.

Guru besar yang dikukuhkan selanjutnya adalah Prof. Dr. Drs. Usman Kasim, M.Ed dengan orasi ilmiah bertajuk, “The Implementation of TOEFL Score as a Requirement for Script Examination at Syiah Kuala University” sebagai persiapan bagi mahasiswa agar mampu berbahasa Inggris. Kemampuan berbahasa asing–khususnya bahasa Inggris–wajib dimiliki semua orang agar mampu bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Terbukanya pasar ekonomi ASEAN memang belum begitu terasa di Aceh, tapi perlu kesiapan masyarakat dalam menghadapinya. Salah satunya adalah kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris. Oleh karena itu, kepakaran Prof Usman Kasim dalam bidang pendidikan bahasa Inggris sangat dibutuhkan terutama dalam mencetak calon sarjana yang mampu berbahasa Inggris. Selain itu juga mendorong peningkatan nilai TOEFL demi kelancaran kelulusan mahasiswa.

Hingga saat ini, Unsyiah telah memiliki 44 guru besar dengan rincian; Fakultas Ekonomi 6 orang, Fakultas Kedokteran Hewan 4 orang, Fakultas Hukum 5 orang, Fakultas Teknik 8 orang, Fakultas Pertanian 11 orang, FKIP 5 orang, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 2 orang, serta Fakultas Kelautan dan Ilmu Perikanan berjumlah 3 orang. (mr)

Leave A Reply